JURNAL DAN BULLETIN

No.6  Volume I, Tahun 2011. [Klik Disini]

MANAJEMAN MUTU  INDUSTRI YOGHURT

[Q. Ngaini, A. Darmawan,  Irsyad, M. Mudapar]

I.  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Oleh sebab itu, pemenuhan pangan yang aman dan sehat sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan akan keamanan pangan dapat diterapkan mulai dari yang menghasilkan, membuat, menangani ataupun yang menyediakan makanan. Mereka harus mampu menunjukkan cukup bukti dalam mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang bisa berdampak pada keamanan pangan. Berdasarkan hal tersebut itulah, banyak industri pangan terdorong berusaha mengikuti keinginan konsumennya dengan jalan menjamin mutu pada produk yang dihasilkannya.

Keamanan pangan, masalah dan dampak penyimpangan mutu, serta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengembangan sistem mutu industri pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri dan konsumen, yang saat ini sudah harus memulai mengantisipasinya dengan implementasi sistem mutu pangan. Karena di era pasar bebas ini industri pangan Indonesia mau tidak mau sudah harus mampu bersaing dengan derasnya arus masuk produk industri pangan negara lain yang telah mapan dalam sistem mutunya. Salah satu sasaran pengembangan di bidang pangan adalah terjaminnya pangan yang dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan.

Industri yogurt merupakan salah satu industri yang berkembang pesat saat ini. Dengan tren masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya pangan untuk kesehatan, yogurt menjadi salah satu pilihan konsumen sebagai salah satu bentuk pangan fungsional. Jaminan mutu pada produk yogurt sangat diperlukan oleh konsumen karena produk ini berbahan baku susu yang sangat mudah tercemar mikroba. Konsumen harus diyakinkan bahwa produk yogurt yang mereka konsumsi aman dan dapat memberikan fungsi secara optimal.

B. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menganalisis aspek manajemen mutu pada industri yogurt.

II.  MANAJEMEN MUTU PADA INDUSTRI YOGHURT

Manajemen merupakan seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengontrolan daripada human and natural resource untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.(prof. Oey Liang Lee, Guru Besar Manajemen UI). Sedangkan menurut seorang businessman M.Fuad, manajemen adalah suatu proses yang melibatkan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai sasaran perusahaan melalui pemanfaatan factor produksi yang dimiliki. Adapaun yang dimaksud dengan mutu menurut David L.Goetsch dan Staley David adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang,proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan. Definisi mutu menurut ISO 8402 dan SNI 19-8402-1991 adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar. (Miftah, 2010)

Setiap industri sepatutnya melakukan manajem mutu didalam perusahaannya. Terdapat beberapa tahapan dalam manajemen mutu yaitu inspeksi, pengendalian mutu, pemastian mutu (quality assurance), manajemen  mutu dan manajemen mutu terpadu. Dalam manajemen mutu, biasanya menerapkan delapan konsep dasar manajemen mutu yaitu :

1.    Fokus pada pelanggan

Keberadaan sebuah organisasi atau perusahaan sangat bergantung pada pelanggannya. Sebagai pihak industri, kita harus memahami kebutuhan  dan harapan yag diinginkan pelanggan. Instansi pelayanan publik harus menetapkan fokus pelanggan sebagai perhatian utama dengan bentuk komunikasi yang efektif untuk mencari apa dan bagaimana kebutuhan dan harapan pelanggan. Adapun manfaat dengan menerapkannya fokus pelanggan adalah dapat meningkatkan pangsa pasar melalui tanggapan yang cepat dan fleksibel terhadap kesempatan pasar, meningkatkan efektifitas pengguna sumberdaya manusia dalam mencapai kepuasan konsumen serta meningkatkan loyalitas terhadap konsumen.

2.    Kepemimpinan
Pemimpin harus dapat menciptakan suatu lingkungan yang kondusif dan serasi dengan melibatkan semua karyawan dalam mencapai sasaran mutu perusahaan. Ketauladanan untuk konsisten dalam penerapan sistem manajemen mutu akan meningkatkan kinerja organisasi/ perusahaan, sehingga semua karyawan termotivasi untuk selalu bekerja efektif dan efisien dengan sistem manajemen mutu. Manfaat dalam penerapan sikap kepemimpinan diantaranya adalah karyawan akan memahami dan termotivasi menuju sasaran dan tujuan organisasi dan aktifitas akan dievakuasi, disesuaikan dan diterapkan dalam salah satu kesatuan cara serta dapat meminimalisisr kesalahan komunikasi diantara tingkat organisasi.

3.   Ketelibatan Karyawan (Involved of People )

Sistem manajemen mutu tidak dapat dilaksanakan secara sendiri. Semua personil dalam organisasi harus terlibat. Karyawan yang melaksanakan kegiatan proses produksi pada semua tingkatan harus dilibatkan dalam sistem manajemen mutu agar penerapannya efektif. Karyawan akan merasa terlibat dan termotivasi melaksanakan sistem manajemen mutu sebagai keputusan strategis untuk mencapai kinerja prima dan mampu memuaskan pelangganya. Karyawan merupakan esensi dari organisasi dalam rangka kebutuhan bagi penerapan sistem manajemen mutu yang harus ditingkatkan kesejahteraan mereka. Manfaat dalam penerapan keterlibatan karyawan diantaranya adalah karyawan dalam organisasi menjadi termotivasi, memberikan komitmen dan telibat, menumbuh kembangkan inovasi dan kreativitas dalam mencapai tujuan organisasi, karyawan menjadi tanggung jaawab terhadap kinerja mereka serta karyawan menjadi giat berpartisipasi dalam peningkatan terus menerus.

4. Pendekatan Proses

Rencana dan kendali proses harus ditetapkan secara efektif untuk mencegah penyimpangan dan ketidaksesuaian yang akan terjadi. Proses merupakan urutan beberapa kegiatan atau suatu set kegiatan yang memerlukan sumber daya untuk mengubah masukan menjadi bentuk keluaran yang sesuai dengan yang diinginkan atau direncanakan. Tujuan pendekatan proses adalah untuk memudahkan pengukuran dan pengendalian mutu dan penyediaan sumber daya yang cukup sesuai spesifikasi yang ditetapkan secara efektis dan efisien. Suatu hasil  yang diinginkan akan tercapai secara lebih efisien apabila aktivitas dan sumber daya yang berkaitan dapat dikelola sebagai suatu proses. Suatu proses dapat didefinisikan sebagai integrasi sekuensi dai orang, material, metode, mesin dan peralatan dalam suatu lingkunganguna menghasilkan nilai tambah/output bagi konsumen. Manfaat dalam penerapan pendekatan proses diantaranya adalah biaya menjadi lebih rendahdan waktu siklus menjadi lebih pendek melalui efektifitas penggunaan sumber-sumber daya, dan hasil-hasil menjadi lebih meningkat, konsisten dan dapat diperkirakan, serta kesempatan peningkatan menjadi prioritas dan terfokus. (Budi. 2010)

5.  Pendekatan Sistem pada Manajemen

Mengidentifikasi, memahami, dan mengelola proses yang saling terkait sebagai sistem berkontribusi untuk keefektifan organisasi dan efisiensi dalam mencapai tujuannya.

6.  Perbaikan Berkelanjutan

Salah satu sasaran mutu tetap suatu organisasi yaitu melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap kinerja secara keseluruhan.

7.   Pendekatan Faktual dalam Pengambilan Keputusan

Keputusan yang efektif selalu didasarkan pada analisis data dan informasi. Data yang ada dikumpulkan kemudian diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi. Informasi ini yang kemudian dapat digunakan untuk menentukan dalam pengambilan keputusan. Jika ada penyimpangan pada produk akhir, misalnya yogurt yang dihasilkan kurang asam, dapat ditelusuri letak kesalahannya.

8.   Hubungan Kerjasama yang Saling Menguntungkan dengan Pemasok

Perusahaan dan pemasoknya saling bergantung sehingga hubungan yang saling menguntungkan antara mereka meningkatkan kemampuan keduanya untuk menambah nilai. Perusahaan harus memuaskan pemasok mereka dengan memberikan instruksi dan persyaratan yang jelas dan kemudian membayar sesuai dengan kesepakatan bersama. Setidaknya industri yogurt memiliki empat pemasok besar, yaitu pemasok susu, gula, starter, dan essence. Keempat pemasok ini harus dijaga kuantitas dan kualitas pasokannya. Jika tidak, kontinuitas produksi yogurt akan terhambat. (Alvi. 2010)

A.  Quality Control pada Industri Yogurt

Susu telah dikenal sebagai bahan makanan yang baik dan bernilai tinggi. Bahan makanan ini mudah dicerna dan mengandung zat-zat makanan yang sangat diperlukan oleh manusia seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral dan air. Air susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang sangat baik untuk kesehatan juga sangat baik untuk pertumbuhan bakteri, oleh karena itu untuk mempertahankan sifat-sifat susu yang baik perlu pencegahan terhadap kerusakan kualitas air susu. Maka untuk menghasilkan produk susu yang aman dan berkualitas maka perlu diadakan proses Pengendalian Mutu (Quality Control) pada setiap proses penerimaan susu sampai proses produksi yaitu menjadi produk akhir.

Pengujian mutu susu segar mencakup uji fisik yaitu uji organoleptik (warna, rasa, bau), uji kekentalan, uji suhu, serta uji penetapan berat jenis, dan uji kimia yaitu uji pH, uji alkohol, uji resolic acid, pengukuran kadar lemak (metode gerber), uji penambahan lemak nabati, uji penambahan gula dan uji total bahan padat atau total solid (metode pengeringan). Proses pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi dan homogenisasi ada beberapa tahap, yaitu mulai dari penerimaan bahan baku dari KUD, dilakukan pengujian di dalam laboratorium (uji fisik dan uji kimiawi), penyaringan dengan filter, pendinginan awal, pemanasan awal, proses pencampuran (mixing), homogenisasi, pasteurisasi, pendinginan akhir, pengisian dan pengemasan.

Tahap pembuatan yoghurt yaitu pemanasan awal, proses mixing, homogenisasi, pasteurisasi, inokulasi, inkubasi, pengadukan, pendinginan serta pengisian dan pengemasan kemudian pengepakan dan pendistribusian. Pengendalian mutu susu pasteurisasi dan homogenisasi serta yoghurt dilakukan dengan pengujian di Laboratorium yang meliputi pengujian bahan baku, pengujian produk setengah jadi, pengujian produk jadi pasca pasteurisasi serta pengujian produk pasca pengemasan. (Tim. 2010).

Yogurt harus mengandung bakteri asam laktat aktif sesuai dengan standar produk nasional, oleh karena itu, pengangkutan dan penjualan yang diperlukan untuk sistem rantai dingin yang baik untuk memastikan kualitas. (Hao dan Zhang, 2010.)

B.  Klausul ISO 9000:2000 Dispesifikkan untuk Industri Yogurt

1. Sistem Manajemen Mutu

1.1 Persyaratan Umum

Organisasi harus menetapkan, mendokumentasikan, menerapkan dan memelihara sistem manajemen mutu dan melakukan perbaikan secara berkesinambungan untuk mencapai efektivitas yang sesuai dengan persyaratan standar ini. Organisasi harus:

a. mengidentifikasi dan menetapkan proses-proses vital yang diperlukan untuk menerapkan sistem manajemen mutu pada keseluruhan organisasi tersebut,

b. menetapkan urutan dan interaksi antar proses-proses tersebut,

c. menetapkan metode yang diperlukan untuk menjalankan operasi maupun pengendalian proses dengan tepat,

d. menetapkan kriteria untuk memastikan bahwa operasi maupun pengendalian proses tersebut telah berjalan dengan efektif,

e. memastikan kecukupan sumber daya dan informasi yang diperlukan untuk mendukung operasi dan pengendalian proses,

f. memonitor, mengukur, dan menganalisis tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang direncanakan,

g. mengembangkan strategi perbaikan untuk mengembangkan solusi yang sistemik dan efisien, dan

h. memastikan bahwa proses yang telah diperbaiki terpelihara secara berkesinambungan.

Proses-proses yang diperlukan harus dikelola oleh organisasi itu sendiri dan sesuai dengan persyaratan yang ada. Apabila organisasi memilih untuk menyerahkan berjalannya proses tersebut kepada pihak lain (sub kontrak), yang kemudian akan mempengaruhi proses tersebut, maka organisasi harus menjaga kesesuaian terhadap persyaratan dengan membuat pengendalian prosesnya.

1.2 Persyaratan dokumentasi

1.2.1 Umum

Dokumentasi sistem manajemen mutu mencakup:

a. pernyataan tentang kebijakan dan tujuan mutu,

b. pedoman atau manual mutu,

c. prosedur dan rekaman terdokumentasi yang dipersyaratkan oleh standar ini,

d. dokumen yang diperlukan oleh organisasi untuk memastikan efektivitas perencanaan, operasi dan pengendalian prosesnya, dan

e. catatan yang dipersyaratkan ISO-9001.

Dokumen merupakan catatan rencana sistem mutu yang akan dilaksanakan. Fungsinya adalah sebagai alat penelusuran, bukti tertulis ataupun alat penilaian keefektifan sistem manajemen mutu yang diterapkan. Teknik dokumentasi yang baku tidak ditetapkan, akan tetapi dikembalikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi tersebut tanpa meninggalkan dokumentasi pada beberapa klausul yang sifatnya wajib, antara lain:

a. pengendalian dokumen (klausul 4.2.3),

b. pengendalian rekaman (klausul 4.2.4),

c. audit internal (klausul 8.2.2),

d. pengendalian produk yang tidak sesuai (klausul 8.3),

e. tindakan perbaikan (klausul 8.5.2), dan

f. tindakan pencegahan (klausul 8.2.2).

1.2.2 Manual mutu

Organisasi harus menetapkan dan memelihara panduan mutu yang mencakup:

a. lingkup sistem manajemen mutu,

b. prosedur-prosedur terdokumentasi, dan

c. deskripsi dari interaksi antara proses dan sistem manajemen mutu.

1.2.3 Pengendalian dokumen

Semua pengendalian dengan prosedur terdokumentasi dilakukan dengan mencakup:

a. Review pembaharuan dan persetujuan maupun persetujuan ulang,

b. Identifikasi setiap perubahan dan revisi,

c. Keberadaan dokumen yang sah dan legal, dan

d. Pencegahan agar dokumen yang sudah tidak berlaku tidak digunakan lagi.

1.2.4 Pengendalian rekaman

Rekaman yang dibuat harus disusun dan dipelihara untuk memberikan bukti kesesuaian persyaratan dan beroperasinya sistem manajemen mutu secara efektif. Rekaman harus tetap jelas dibaca, dapat diidentifikasi dan ditelusuri, mudah dicari, dan didapatkan kembali.

2. Tanggung Jawab

2.1 Komitmen Manajemen

Manajemen harus berkomitmen dengan mengimplementasikan keseluruhan sistem manejemen mutu secara kontinyu serta melakukan perbaikan yang berkesinambungan untuk menjaga proses berjalan dengan efektif.

2.2 Fokus Kepada Pelanggan

Manajemen puncak harus memenuhi setiap persyaratan pelanggan untuk menjaga kesesuaian produk. Kebutuhan setiap pelanggan yang berbeda-beda harus disiasati tanpa mengorbankan kesesuaian dengan sistem manajemen mutu yang diaplikasikan.

2.3 Kebijakan Mutu

Manajemen puncak harus meyakinkan bahwa kebijakan mutu yang dijalankan searah dengan visi dan misi perusahaan serta mampu membawa komitmen tersebut untuk dapat dipahami oleh seluruh karyawan. Komunikasi dan proses review harus dilakukan untuk menjamin hal tersebut.

2.4 Perencanaan

Manajemen puncak harus mampu merencanakan tujuan mutu perusahaan baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Tujuan mutu juga harus dapat diukur secara kuantitatif dan sejalan dengan sistem manajemen mutu organisasi.

2.5 Wewenang dan Komunikasi

Manajemen puncak harus melakukan pembagian wewenang yang efektif dan efisien bagi seluruh personel yang ada di dalam organisasi tersebut. Semua personil yang diserahkan wewenang tersebut harus menyadari urgensi dari wewenangnya untuk mencapai tujuan mutu dari perusahaan, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek.

Manajemen puncak juga harus menjamin terjadinya proses komunikasi dua arah antar setiap personil sehingga bisa didapatkan masukan dan pengembangan organisasi yang lebih berkesinambungan dan kontinyu. Komunikasi internal harus dijaga agar tetap berlangsung.

3. Manajemen Sumberdaya

3.1 Penyediaan Sumberdaya

Organisasi harus memastikan tersedianya sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan sistem manajemen mutu dengan efesien dan efektif, serta memelihara dan memperbaikinya.

3.2 Sumberdaya Manusia

Setiap personil di organisasi tersebut merupakan sumber daya manusia yang harus ditingkatkan terus-menerus kemampuannya, baik itu dalam hal keterampilan, pengetahuan, maupun etika dalam organisasi. Peningkatan kemampuan dapat dilakukan dengan pelatihan yang dilakukan secara internal maupun dengan meminta bantuan kepada pihak lain yang memiliki kompetensi untuk melakukannya.

3.3 Infrastruktur

Organisasi harus menentukan, menyiapkan, serta memelihara setiap infratruktur yang ada untuk mencapai tujuan mutu dari organisasi, baik itu jangka panjang maupun jangka pendek. Jenis infrastuktur yang dimaksud mencakup:

a. bangunan, ruang kerja, alat kerja, dan utilitas yang diperlukan,

b. peralatan proses, baik itu yang bersifat perangkat keras maupun perangkat lunak, dan

c. sarana pendukung kegiatan personil.

3.4 Lingkungan Kerja

Organisasi harus menjamin bahwa lingkungan kerja cukup kondusif untuk melakukan kegiatan produksi serta mencapai kesesuaian persyaratan mutu. Pengaturan lingkungan kerja harus memperhatikan aspek psikologis maupun fisiologis dari personel yang akan bekerja di dalamnya.

4. Realisasi Produk

4.1 Perencanaan Realisasi Produk

Perencanaan realisasi produk harus ditentukan oleh organisasi dengan mempertimbangkan tujuan mutu dan persyaratan produk, serta kriteria yang dibutuhkan untuk mencapai sistem manajemen mutu yang efektif dan efisien. Proses verifikasi, validasi, monitoring, dan inspeksi dilakukan dalam jangka waktu yang rutin.

4.2 Proses yang Berhubungan dengan Pelanggan

Organisasi harus menentukan proses-proses vital pada produksi yang akan berkenaan dengan pelanggan, sehingga dapat diidentifikasi masalah-masalah yang berhubungan antara pelanggan dengan produk. Komunikasi dengan konsumen juga harus dijaga dan bila ada masalah, harus ditanggapi dengan sedini mungkin untuk menghindari hilangnya kepercayaan konsumen pada produk dan organisasi tersebut.

4.3 Desain Produk dan Pengembangan

Organisasi harus menetapkan personil yang bertanggungjawab terhadap desain produk dan pengembangannya, sehingga nantinya tidak ada tumpang tindih tanggung jawab. Pengembangan produk dilakukan dengan melihat persyaratan dan perkembangan permintaan konsumen, sehingga produk yang dihasilkan akan selalu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Proses pengembangan produk juga dapat melibatkan personil dari bagian yang berbeda dengan yang bertanggung jawab untuk melakukan pengembangan produk.

4.4 Pembelian

Pembelian yang dilakukan oleh organisasi harus dijamin antara kesesuaian produk atau bahan yang dibeli dengan persyaratan pembelian yang ditentukan sebelumnya. Bila tidak sesuai, maka dapat dilakukan pengembalian barang atau sesuai dengan kesepakatan dengan pihak yang menjual produk atau bahan tersebut, dengan penekanan bahwa pada akhirnya harus memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Bila tidak tercapai kesepakatan, sesegera mungkin dapat dilakukan pengalihan pesanan kepada pihak lain yang mampu memenuhi spesifikasi produk atau bahan.

5. Pengukuran, Analisa, dan Perbaikan

5.1 Umum

Organisasi harus merencanakan dan mengimplementasikan pengukuran, analisa, dan perbaikan proses untuk mencapai tujuan mutu dan sistem manajemen mutu yang efektif dan efisien. Hal ini dilakukan dengan tujuan:

a. menunjukkan kesesuaian produk dengan spesifikasi, dan

b. memastikan kesesuaian pelaksanaan sistem manajemen mutu.

5.2 Pemantauan Proses dan Produk

Pemantauan terhadap proses dan produk dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Setiap hasil dari pemantauan harus dicatat dalam bantuk rekaman, dengan bentuk yang tidak terbatas pada tulisan ataupun data digital. Setiap proses pemantauan yang dilakukan tidak boleh mengganggu jalannya proses produksi dan tetap harus menjamin keberlangsungan sistem manajemen mutu yang efektif dan efisien.

Pemantauan dapat dilakukan dengan melihat karakteristik produk dan kesesuaiannya dengan spesifikasi yang ditetapkan. Bila ada tidak kesesuaian, maka dilakukan tindakan koreksi (lihat klausul 8.5.2) yang sesuai.

5.3 Analisis Data

Organisasi harus mengumpulkan dan menganalisis data yang menunjukkan kesesuaian dan efektivitas dari sistem manajemen mutu yang diterapkan. Evaluasi terhadap perbaikan kontinyu juga dilaksanakan untuk menjaga keberlangsungan sistem manajemen mutu yang efektif dan efisien. Analisis data dapat menyampaikan informasi yang berhubungan dengan:

a. pemasok,

b. kepuasan pelanggan,

c. karaktersitik dari proses dan produk, dan

d. kesesuaian dengan spesifikasi produk.

5.4 Perbaikan

5.4.1 Perbaikan Kontinyu

Organisasi harus melakukan perbaikan yang sifatnya kontinyu dalam hal efektivitas sistem manajemen mutu dengan berdasarkan pada tujuan mutu, kebijakan mutu, hasil audit,serta review dari manajemen.

5.4.2 Tindakan Koreksi

Tindakan koreksi dilakukan bila ada ketidaksesuaian antara spesifikasi produk ataupun proses dengan perencanaan sebelumnya. Organisasi harus melakukan tindakan untuk menghilangkan penyebab ketidaksesuaian tersebut dengan cara apapun selama itu masih sesuai dengan sistem manajemen mutu, peraturan perundang-undangan, dan regulasi yang berlaku. Tahapan tindakan koreksi secara garis besar adalah sebagai berikut:

a. melakukan review terhadapa ketidaksesuaian yang terjadi,

b. menentukan penyebab dari ketidaksesuaian tersebut,

c. mengevaluasi tindakan yang diperlukan untuk mengatasi ketidaksesuaian tersebut,

d. melakukan implementasi tindakan yang diperlukan, dan

e. melakukan perekaman terhadap hasil-hasil dari tindakan yang dilakukan untuk menjadi acuan dalam mengatasi ketidaksesuaian yang sama di masa yang akan datang.

5.4.3 Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan dilakukan untuk menghilangkan potensi penyebab ketidaksesuaian yang dapat terjadi untuk pertama kalinya ataupun untuk kesekian kalinya. Prosedur baku dalam menetapkan tindakan pencegahan adalah:

a. menentukan potensi ketidaksesuaian

b. mengevaluasi tindakan yang diperlukan untuk mencega ketidaksesuaian

c. menimplementasikan tindakan yang diperlukan

d. melakukan perekaman terhadapa tindakan-tindakan yang dilakukan

e. melakukan review terhadap tindakan pencegahan yang dilakukan

f. bila tindakan pencegahan gagal, maka langsung dilakukan tindakan koreksi (klausul 8.4.2 a-e) hingga masalah dapat diselesaikan, kemudian ulangi lagi proses tindakan pencegahan. (ISO 9000:2008).

III.  PENUTUP

Kesimpulan

Industri yogurt merupakan salah satu jenis industry yang berkembang pesat untuk saat ini. Industry yogurt harus menjamin agar produknya aman untuk dikonsumsi oleh konsumen sesuai standar nasional yang berlaku. Salah satu prinsip penting dalam industry yogurt adalah penerapan kontrol kualitas (Quality Control), Quality Assurance, dan Total Quality Manajemen sesuai standar ISO yang berlaku. Dengan adanya penerapan standar tersebut, diharapkan produk yogurt dapat menjamin keamanan bagi konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Furwanti Alwie, Alvi. 2010. Manajemen Mutu. Universitas Riau. http://alvialwie.wordpress.com. (12 Januari 2011).
  2. Hao Difei, Zhang Huixia. 2010. Yogurt quality control and shelf life extension. Department of Food Engineering, Jiangsu Food Science College , Xinxiang First Health School, Xinxiang 453000. (http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-ZNGZ200907051.htm. (12 Januari 2011)
  3. ISO 9000:2008.
  4. Miftah. 2010. TQM ala Joseph M. Juran. http://miftah19.wordpress.com/?s=TQM. (12 Januari 2011)
  5. Tim. 2010. Quality Control dalam Pembuatan Susu Pasteurisasi dan Homogenisasi serta Yoghurt di CV. Cita Nasional Sumogawe, Getasan, Semarang, Jawa Tengah. www.digilib.uns.ac.id. (12 Januari 2011).
  6. Wibowo Budi. 2010. 8 Prinsip Manajemen : Pengertian & Manfaatnya. www.gmci.indonetwork.web.id. (12 Januari 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: