JURNAL DAN BULLETIN

No.19 Volume I, Tahun 2011. [Klik Disini]

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN MUTU INDUSTRI MINUMAN TEH KEMASAN

[K. Riswanto, A.Riffi, A. Prayogi, R. A. Sinaga, A. Fredickson]

I.  PENDAHULUAN

TQM atau Manajemen Mutu Menyeluruh adalah suatu konsep manajemen yang telah dikembangkan sejak lima puluh tahun lalu dari berbagai praktek manajemen serta usaha peningkatan dan pengembangan produktivitas. Di masa lampau, literatur manajemen berfokus pada fungsi-fungsi kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, perekrutan staf, pemberian arahan, penugasan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Konsep manajemen ini membuka jalan menuju paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan, inovasi dan peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan. Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya “perubahan paradigma” adalah menajamnya persaingan, ketidak-puasan pelanggan terhadap mutu pelayanan dan produk, pemotongan anggaran serta krisis ekonomi. Meskipun akar TQM berasal dari model-model perusahaan dan industri, namun kini penggunaannya telah merambah sturuktur manajemen, baik di lembaga pemerintah maupun lembaga nirlaba.

TQM memperkenalkan pengembangan proses, produk dan pelayanan sebuah organisasi secara sistematik dan berkesinambungan. Pendekatan ini berusaha untuk melibatkan semua pihak terkait dan memastikan bahwa pengalaman dan ide-ide mereka memiliki sumbangan dalam pengembangan mutu. Ada beberapa prinsip-prinsip fundamental yang mendasari pendekatan semacam itu, seperti mempromosikan lingkungan yang berfokus pada mutu; – dimana terdapat komunikasi terbuka dan rasa kepemilikan pegawai – sistem penghargaan dan pengakuan; pelatihan dn pendidikan terus menerus, dan pemberdayaan pegawai. (Muslim, A. 1989).

Di Indonesia, TQM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an dan sekarang cukup populer di sektor swasta khususnya dengan adanya program ISO 9000. Banyak perusahaan terkemuka dan perusahaan milik negara telah mengadopsi TQM sebagai bagian dari strategi mereka untuk kompetitif baik di tingkat nasional mupun internasional. Tetapi TQM kurang begitu dikenal di sektor publik. Namun kini keadaan sudah berubah, faktor-faktor yang mendorong sektor swasta untuk beradaptasi dengan konsep ini, juga memiliki dampak terhadap cara pemerintah menyediakan pelayanan.

Indonesia kini berada dalam periode transisi, dari gaya pemerintahan otoriter yang sangat sentralistik menuju ke gaya pemerintahan bottom-up yang desentralistik, dimana pemerintah daerah berada dalam proses menerima otonomi daerah. Masa transisi ini berlangsung dalam masa krisis ekonomi dan restrukturasi yang memaksa pemerintah untuk mengeksplorasi model-model pengadaan pelayanan alternatif. Sebenarnya, UU No. 22 1999 (mencakup kepemerintahan daerah) memiliki potensi untuk mentransformasi cara pemberian pelayanan oleh pemerintah secara dramatis. UU ini bertujuan untuk memberdayakan pemerintah daerah, menguatkan masyarakat lokal dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Dalam konteks inilah terdapat peluang yang berharga untuk mpenerapan TQM adalah suatu proses jangka panjang dan berlangsung terus menerus, karena budaya suatu organisasi sangatlah sulit untuk dirubah. Faktor-faktor yang membentuk budaya organisasi seperti struktur kekuasaan, sistem administrasi, proses kerja, kepemimpinan, predisposisi pegawai dan praktek-praktek manajemen berpotensi untuk menjadi penghambat perubahan. Terkadang kekuasaan paling penting di sektor publik tidak ditemukan dalam organisasi, tetapi lebih sering terdapat pada sistem yang lebih besar. Sebagai contoh, sistem pendidikan, personalia, peraturan dan anggaran berada di luar kekuasaan organisasi sektor publik.

Selain hambatan-hambatan yang berada di luar ruang lingkup sebuah organisasi, terdapat kendala lain yang khas di setiap organisasi, seperti kurangnya akuntabilitas terhadap pelanggan, tidak jelasnya visi dan misi, penolakan terhadap perubahan dan lemahnya komitmen di kalangan manajer senior untuk menerapkan TQM.

Potensi keberhasilan TQM sudah nampak dan dampaknya pun bisa diperlihatkan, sekarang yang dibutuhkan adalah keputusan untuk melaksanakan TQM. Hal ini mestinya menjadi bagian dari suatu strategi untuk meningkatkan komitmen lembaga- lembaga publik untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. emperkenalkan dan melaksanakan TQM.

Salah satu bentuk implementasi konsep TQM dalam sistem manajemen adalah standar

Quality Management System ISO 9000. Standar ini merupakan sistem manajemen yang mensyaratkan bahwa manajemen organisasi harus memiliki standar (kausul) seperti yang disyaratkan oleh standar ISO ini. Klausul-klausul sistem manajemen ini terdiri dari klausultanggung jawab manajemen, klausul pengelolaan sumberdaya, klausul realisasi produk, klausul pengukuran dan evaluasi, dan klausul sistem dokumentasi. Karena Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 ini, bentuk konsepnya TQM, maka pendekatan penerapnnya juga menggunakan pendekatan TQM juga.

Penerapan TQM (Total Quality Management) melalui sertifikasi ISO 9000 saat ini telah menjadi kebutuhan vital pada semua unit bisnis baik yang berskala kecil, menengah maupun skala besar. Cepatnya perkembangan sertifikasi ISO 9000 ke berbagai sektor industri tersebut disebabkan oleh adanya perubahaan lingkungan bisnis yang dipacu oleh semakin tingginya tuntutan konsumen akan kualitas produk maupun jasa yang dihasilkan (Montgomerry, 1990). Para produsen sadar bahwa pasar yang terbuka hanya akan dapat dipenuhi oleh produk-produk yang bermutu. Hal ini akan terwujud jika perusahaan telah secara konsisten menerapkan manajemen mutu dalam ISO 9000. Trend pasar internasional saat ini telah menuntutstandar kualitas atau mutu yang semakin tinggi.

Konsumen hampir di seluruh belahan dunia saat ini menuntut sertifikat ISO 9000 sebagai prasyarat pokok (minimum requirement). Dari sejumlah perusahaan bersertifikasi ISO 9000 di Indonesia dimana baik secara langsung maupun tidak langsung telah menerapkan prinsip-prinsip TQM, masih ditemukan berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh oknum karyawan. Penyimpangan tersebut menimbulkan kendala dalam upaya perusahaan untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Hal ini menyiratkan masih lemahnya fungsi audit internal dalam mendukung upaya perusahaan untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Kondisi ini diperlemah oleh rendahnya kompetensi dan profesionalisme serta masih kurangnya pemahaman auditor internal mengenai prinsip-prinsip TQM dan ISO 9000 sehingga mengakibatkan ketidakoptimalan fungsi audit internal dalam memenuhi harapan para pelanggannya yaitu pelanggan internal dan eksternal (Hiro:2003; Eddie Gunadi:2003; Khomarul Hidayat:2002; Rand:1994). Dari sejumlah perusahaan bersertifikasi ISO 9000 di Indonesia dimana baik secara langsung maupun tidak langsung telah menerapkan prinsip-prinsip TQM, masih ditemukan berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh oknum karyawan. Penyimpangan tersebut menimbulkan kendala dalam upaya perusahaan untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Hal ini menyiratkan masih lemahnya fungsi audit internal dalam mendukung upaya perusahaan untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

II.  CONTOH KASUS

Analisis Sistem Pengendalian Mutu (Dwi Riyanto, 1991) : Industri Minuman Teh Kemasan

Sistem pengendalian mutu pada industri minuman teh kemasan yang dikaji yaitu :

1)      Pengendalian mutu bahan baku utama (air, teh, dan gula),

2)      Pengendalian mutu bahan penunjang (tutup botol, botol, dan tetrapak),

3)      Pengendalian mutu produk akhir,

A.     PENGENDALIAN MUTU BAHAN BAHU UTAMA

1.      Pengendalian Mutu Air

Pengendalian mutu terhadap air dilakukan dengan cara pemeriksaan 100 persen terhadap setiap tangki sebanyak 6000 liter. Uji dilakukan sesuai dengan standar industri untuk air minuman. Apabila ada satu parameter yang menyimpang maka akan dilakukan penolakan. Parameter uji dan standar air disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Standar Mutu Air Bahan Baku Teh Kemasan

Parameter mutu Standar
Warna Jernih
Kesadahan 2 – 4 ° dH
pH 6.5 – 8.5
Klorin maks. 8 ppm
Cloride (Cl) maks. 100 ppm
Rasa dan bau Normal
Fe, Mn, Pt, Cu tidak ternyata

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

2.      Pengendalian Mutu Teh Hijau kering

Pengendalian mutu teh hijau kering dapat dilakukan dengan mengambil contoh pada lot teh hijau kering (28 karung), kemudian di uji sesuai standar yang telah ditetapkan di industri minuman teh kemasan. Setiap ada penyimpangan pada salah satu parameter mutu yang diuji, maka dilakukan penolakan terhadap contoh. Parameter mutu yang diuji dan standar mutu teh hijau disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Standar Mutu Teh Hijau Kering

Parameter mutu Standar
Kadar air < 12%
Kadar abu < 2%
Bau dapat larut dalam air > 50% dari kadar abu
Thanin >  5%
Pb, Cu, Hg, Fe Tidak ternyata
Bau, rasa, keadaan Normal
Ekstrak dalam air > 3%

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

3.      Pengendalian Mutu Gula Pasir

Pengendalian mutu gula pasir dilakukan dengan mengambil contoh dari lot gula (ukuran lot gula 28 karung). Contoh akan ditolak jika pada pengujian yang dilakukan terdapat penyimpangan pada salah satu atau lebih atas parameter uji yang diuji. Parameter mutu pengujian mutu gula disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Standar mutu gula pasir

Parameter mutu Standar
Kotoran Minimum
Ukuran Kristal Kecil sampai sedang
Kadar kemanisan > 9.0°  Brix
pH Beda pH larutan dengan pelarut > 0.2
Kesadahan 2° dH dari kesadahan larutan

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

B.     PENGENDALIAN MUTU BAHAN PENUNJANG

1.      Pengendalian mutu tutup botol

Apabila penyimpangan pada pengujian parameter mutu terhadap contoh tutup botol yang diambil dari lot yang besarnya 10 000, maka contoh tersebut langsung ditolak. Parameter mutu dari tutup botol disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Standar mutu tutup botol

Parameter mutu Standar
Ketebalan 0.260.01 mm
Dekorasi Sesuai pesanan pabrik
Diameter luar mm
Diameter dalam 0.10 mm
Tinggi 0.15 mm
Jumlah corrugation 21
Karat Tidak ternyata

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

2.      Pengendalian mutu botol

Ada dua macam pengendalian mutu botol di industri munuman teh kemasan. Pertama adalah pengendalian mutu terhadap botol lama yang telah dipakai dan botol baru. Pemeriksaan botol lama terus-menerus untuk setiap botol yang datang (pemeriksaan 100 persen). Botol baru pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa contoh botol yang mewakili lot botol (1 lot = 3.580 botol). Parameter mutu botol yang diuji tercantum pada tabel 5.

Tabel 5. Standar mutu botol

Parameter mutu Standar
Tebal gelas > 1.3 mm
Tebal dasar botol > 3.2 mm
Toleransi tinggi botol mm
Toleransi diameter mm
Cacat kritis Tidak ada
Cacat fungsional Tidak ada
Dekorasi Sesuai pesanan pabrik

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

3.      Pengendalian mutu tetrapak

Standar mutu tetrapak tercantum pada tabel 6.

Tabel 6. Standar mutu tetrapak

Parameter mutu Standar
Tebel 2.3  0.06 mm
Daya rembes zat cair Tidak tembus
Sambungan Tidak cacat
Keadaan Normal
Dekorasi Sesuai pesanan

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

Apabila pengujian yang dilakukan terdapat penyimpangan maka contoh uji langsung dinyatakan ditolak.pada pengujian mutu tetrapak kini dilakukan terhadap contoh yang diambil dan dianggap mewakili lot tetrapak yang besar 10 000 lembar.

C.     PENGENDALIAN MUTU PRODUK AKHIR

1.      Pengendalian mutu teh botol

Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan tinggi pengisian teh manis dalam botol. Toleransi yang diberikan sebesar 1 ml. pemeriksaan dilakukan secara kontinnyu (pemeriksaan 100%), apabila ada yang menyimpang maka dilakukan pengambilan dan dipisahkan dari produk yang normal.

Pemeriksaan kedua dilakukan dengan pengambilan contoh dari konvenyor setiap 15 menit sekali, kemudian dilakukan terhadap parameter mutu seperti yang tercantum pada Tabel 7. Penolakan dilakukan apabila ada parameter uji yang menyimpang.

Setelah pengjian diatas maka apabila ada penyimpangan pada contoh yang diambil maka dilakukan lagi pemeriksaan dengan memperkecil lot, dengan parameter yang diuji sesuai dengan Tabel 7.

Tabel 7. Standar mutu teh botol

Parameter mutu Standar
Kadar gula 40 o Brix
Kesadahan 0 o dH
Penampakan Jernih
Rasa dan bau Normal
Mikrobiologi :
–          Bakteri < 100 koloni/ 5 ml
–          Kapang dan khamir < 5 kolono/5 ml
–          Koliform < 0 koloni/100 ml
Kondisi tutup dan botol Baik

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

2.      Pengendalian mutu teh kotak

Ada dua tahap pemeriksaan mutu teh kotak yang dilakukan. Pertama dilakukan pemeriksaan terhadap contoh dari konveyor setiap 15 menit, kemudian dilakukan pengujian terhadap parameter mutu.kemudian apabila terjadi penyimpangan maka dilakukan pemilahan dengan memperkecil lot dan dilakukan pemeriksaan kembali. Apabila contoh yang diuji terdapat penyimpangan salah satu parameter mutu maka akan langsung dilakukan penolakan.parameter mutu yang diuji tercantum pada Tabel 8.

Tabel 8. Standar mutu teh kotak

Parameter mutu Standar
Kadar gula 40 o Brix
Kesadahan 0 o dH
Penampakan Jernih
Rasa dan bau Normal
Mikrobiologi :
–          Bakteri < 100 koloni/ 5 ml
–          Kapang dan khamir < 5 kolono/5 ml
–          Koliform < 0 koloni/100 ml
Kondisi kemasan Baik
Bentuk kemasan Normal (tidak menggelembung)

Sumber : (Dwi Riyanto, 1991)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dwi Riyanto, Akhmad. 1991. Sistem Penunjang Keputusan untuk Pengendalian Mutu Bahan Baku dan Produk Industri Minuman Teh Kemasan. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  2. Montgomerry, D.C. 1990. Pengantar Pengendalian Kualitas Statistik. Terjemahan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
  3. Muslim, A. 1989. Studi Aspek Produksi dan Distribusi Produk teh Botol di PT. Sinar Sosro, Jakarta. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: