JURNAL DAN BULLETIN

No.21 Volume I, Tahun 2011. [Klik Disini]

PRINSIP 3Q (QUALITY ASSURANCE, QUALITY CONTROL, QUALITY MANAGEMENT) DAN STANDAR ISO 9001:2008 PADA PERUSAHAAN

[M. A. Saputra, M. Christian, M. Lucky]

BAB I

PENDAHULUAN

Semua perusahaan, baik yang kecil maupun yang besar memerlukan suatu sistem manajemen yang baik, terutama sistem manajemen mutu. Bila tidak ada sistem manajemen mutu yang baik maka akan berakibat buruk bagi perusahaan tersebut, bahkan bisa berakibat fatal dimana perusahaan tersebut dapat gulung tikar. Sistem manajemen mutu yang baik akan menuntun dan memberikan petunjuk bagi perusahaan untuk dapat menjalankan perusahaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Perusahaan yang baik, baik itu perusahaan kecil ataupun perusahaan besar, akan berjalan dengan lancar bila menerapkan 3Q yaitu Quality Analisys, Quality Control, dan Quality Management.

Selain itu, ada pula standar yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk dijadikan standar dalam menentukan manajemen mutunya, yaitu adanya ISO 9001:2008, Six Sigma, sertifikasi Halal, akreditasi Laboratorium, sertifikasi produk,  dan HACCP. Standar tersebut akan  meningkatkan reputasi perusahaan dan meningkatkan penjualan serta semakin banyak konsumen yang menaruh kepercayaan pada perusahaan tersebut atas standar terpercaya yang telah dimiliki oleh perusahaan tersebut. Perusahaan dapat pula menerapkan GKM (Gugus Kendali Mutu)

Perusahaan yang kami ambil sebagai contoh dalam kasus ini adalah perusahaan Minuman Sari Buah X yang mencoba menerapkan prinsip 3Q (Quality Analisys, Quality Control, dan Quality Management) dan standar ISO 9001:2008 pada perusahaannya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Quality management system

Quality management system merupakan sebuah sistem manajemen strategis terpadu yang melibatkan semua staf dan menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk terus meningkatkan proses-proses di dalam organisasi demi memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan-harapan pelanggan. Secara konseptual, manajemen kualitas dapat diterapkan baik pada barang maupun jasa, karena yang ditekankan dalam penerapan manajemen kualitas adalah peningkatan sistem kualitas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan manajemen kualitas adalah pengembangan sistem kualitas yang terdiri dari: perencanaan sistem kualitas, pengendalian sistem kualitas, dan peningkatan sistem kualitas. Pada dasarnya proses industri harus dipandang sebagai suatu peningkatan terus-menerus (continuous industrial process improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide-ide untuk menghasilkan suatu produk, pengembangan produk, proses produksi, sampai distribusi kepada konsumen. Seterusnya, berdasahnrkan informasi sebagai umpan-balik yang dikumpulkan dari pengguna produk (pelanggan) itu dapat dikembangkan ide-ide kreatif untuk menciptakan produk baru atau memperbaiki produk lama beserta proses produksi yang ada saat ini. Ada lima hal yang harus menjadi perhatian pada pengembangan Sistem Manajemen Kualitas yaitu fokus pelanggan, keterlibatan total, tolok ukur, dukungan sistematis, dan peningkatan yang terus menerus.

A. 1. Quality Assurance

Quality Assurance dapat diartikan sebagai upaya nyata, sungguh-sungguh dan terus menerus untuk memberikan kepuasan (satisfaction) dan kepercayaan kepada masyarakat pengguna produk (konsumen) terhadap mutu produk yang dihasilkan. Dalam pengertian ini, kepuasan dan kepercayaan konsumen merupakan sasaran dan sekaligus tolak ukur dari keberhasilan penjaminan mutu (Quality Assurance). Konsumen dapat saja puas terhadap mutu suatu produk, namun belum tentu percaya akan kelangsungan mutu produk tersebut di waktu yang akan datang. Untuk itu, perusahaan perlu memberikan suatu jaminan mutu terhadap mutu produk kepada konsumen (Soekarto, 1990).

Pengendalian mutu dalam istilah industri dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk kegiatan manajemen dengan menggunakan cara-cara yang dapat menjamin hasil yang memuaskan. Sedangkan prosedur untuk mencapai sasaran mutu industri tersebut diistilahkan sebagai “kendali mutu”. Tindakan pengendalian mutu dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu pengendalian rancangan baru, pengendalian bahan yang masuk, pengendalian produk dan kajian proses khusus (Feigenbaum, 1989).

Menurut Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (1986), teknik-teknik yang umum digunakan pada program pengendalian mutu meliputi tujuh piranti (seven tools), yaitu :

a)      Lembar pemeriksaan (check sheet)

b)      Pengelompokan (stratification)

c)      Diagram Pareto

d)     Histogram

e)      Diagram Pencar (scatter diagram)

f)       Diagram sebab-akibat (fishbone diagram)

g)      Bagan kendali (control chart)

Quality Assurance pada industri pangan meliputi beragam kegiatan yang luas yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Tugas utama dari Quality Assurance adalah untuk menyediakan informasi mengenai usaha untuk mengikuti berbagai parameter-parameter mutu yang telah ditetapkan sebelumnya pada setiap tahapan proses produksi. Penyediaan informasi ini perlu sesegera mungkin karena hal tersebut dapat digunakan untuk mengoreksi tahapan proses produksi yang kurang tepat yang sedang berjalan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi produsen.

Perencanaan Quality Assurance pada perusahaan minuman sari buah X meliputi :

a)      Organisasi dan penetapan karyawan dari kegiatan Quality Assurance di dalam perusahaan.

b)      Penetapan standar-standar mutu yang meliputi aspek bahan baku, bahan pengemas, peralatan lini produksi dan produk akhir.

c)      Penyimpanan, penanganan selama distribusi, dan lain-lain.

d)     Laboratorium dan metode-metode untuk analisis dan pengujian parameter mutu yang meliputi metode-metode organoleptik, fisik, kimia dan mikrobiologi.

e)      Penentuan batas maksimum dan minimum untuk setiap parameter mutu serta sistem pencatatan dan pelaporan.

A. 2. Quality Control

Quality control didefinisikan sebagai sebuah sistem pada aktivitas teknis yang dilakukan secara terus menerus. Quality control didefinisikan sebagai sebuah sistem pada aktivitas teknis yang dilakukan secara terus menerus untuk mengukur dan mengkontrol kualitas sekaligus melakukan pengembangan. Quality control terdiri dari tiga faktor yang harus diuji dari segi fisik, kimia, dan mikrobiologi. Dari segi fisik, pada perusahaan minuman sari buah X, diambil beberapa sampel minuman sari buah untuk dilakukan pengujian fisik seperti, tingkat kekentalan, warna, dan lain sebagainya. Dari segi kimia, sampel minuman sari buah dilakukan beberapa pengujian seperti tingkat keasaman (pH), kandungan vitamin C, kandungan serat, kandungan gula. Untuk pengujian sampel minuman sari buah dari segi mikrobiologi dilakukan uji ALT, kapang khamir, koliform (MPN), koliform (EMBA). Misalnya pada pengujian dari segi kimia, contoh sampel minuman sari buah memiliki tingkat keasaman yang belum memenuhi syarat (pH<4), yaitu pH=6.23 (pH masih di atas 4 maka produk tersebut belum layak untuk dijual karena tidak memenuhi syarat pH untuk minuman sari buah.

A.3. Quality Mangement

Quality management merupakan aktivitas yang membawa suatu perusahaan pada tingkat kualitas tertentu. Quality management memiliki empat komponen utama yaitu quality planning, quality control, quality assurance dan quality improvement. Quality management tidak hanya fokus pada produk/pelayanan kualitas, tetapi juga makna untuk menerimanya. Quality management menggunakan quality assurance dan mengontrol proses sebaik produk untuk memperoleh kualitas yang lebih konsisten. Standar ISO 9001 adalah standar internasional terbaik untuk quality management. Berikut ini adalah ringkasan beberapa aspek dari quality management.

Gambar1. Ringkasan beberapa aspek Quality Management

Bila perusahaan Minuman Sari Buah X memiliki perencanaan jadwal ataupun pengorganisasian yang tidak terstruktur maka lama kelamaan perusahaan tersebut akan jatuh dan bangkrut karena tidak menerapkan dan memiliki sistem kerja yang sistematis. Demikian pula halnya bila tidak ada pembagian kerja yang jelas antar divisi dalam perusahaan, dapat menyebabkan terjadinya tumpang tindih dan saling menyalahkan antar anggota dalam tiap divisi maupun antar divisi. Bila hal ini terjadi terus lama kelamaan perusahaan akan mengalami masalah internal yang dapat mempengaruhi perusahaan tersebut dalam jangka panjang. Selain itu, produk yang dihasilkan pun tidak akan maksimal karena tidak adanya koordinasi yang jelas dalam perusahaan.

B. Pengertian Standar yang Digunakan

B. 1. ISO 9001:2008

ISO 9001 berkaitan dengan persyaratan bahwa organisasi yang ingin memenuhi standar tersebut harus memiliki kecocokan. Konfirmasi independen bahwa organisasi memenuhi persyaratan ISO 9001 dapat diperoleh dari bagian ketiga badan sertifikasi. Lebih dari satu juta organisasi di seluruh dunia secara independen bersertifikat ISO 9001 yang  merupakan salah satu sistem manajemen yang paling sering digunakan sebagai alat managemen yang paling banyak digunakan di dunia saat ini. ISO 9001:2008 diterapkan pada lebih dari semiliar organisasi pada 176 negara. Pada versi tahun 2000, tidak lagi dikenal 20 klausa wajib, tetapi lebih pada proses business yang terjadi dalam organisasi. Sehingga organisasi sekecil apapun bisa mengimplementasi sistem ISO 9001:2000 dengan berbagai pengecualian pada proses bisnisnya. Maka dikenallah istilah BPM atau Business Process Mapping, setiap organisasi harus memertakan proses bisnisnya dan menjadikannya bagian utama dalam quality manual perusahaan, walau demikian ISO 9001:2000 masih mewajibkan 6 procedure yang harus terdokumentasi, yaitu procedure control of document, control of record, Control of Non conforming Product, Internal Audit, Corrective Action, dan Preventive Action, yang semuanya bisa dipenuhi oleh organisasi bisnis manapun. Seperti dijelaskan diatas bahwa ISO 9001 versi 2000 lebih mengedepankan pola proses bisnis yang terjadi dalam organisasi perusahaan sehingga hampir semua jenis usaha bisa mengimplementasi system management mutu ISO 9001 ini. Desain dan penerapan sistem manajemen mutu dipengaruhi oleh kondisi yang berubah, sasaran tertentu produk yang disediakan, dan ukuran serta struktur organisasi. Sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu. Prinsip-prinsip ini dapat digunakan oleh manajemen senior sebagai suatu kerangka kerja (framework) yang membimbing organisasi menuju peningkatan kinerja. Delapan prinsip manajemen mutu yang bertujuan untuk mengimprovisasi kinerja sistem agar proses yang berlangsung sesuai dengan fokus utama yaitu effektivitas continual improvement, 8 prinsip manajemen yang dimaksud adalah :

1) Customer Focus : Semua aktifitas perencanaan dan implementasi sistem semata-mata untuk memuaskan customer. Dimana costumer merupakan kunci untuk meraih keuntungan. Kelangsungan hidup perusahaan/organisasi sangat ditentukan bagaimana pandangan pelanggan terhadap organisasi tersebut. Sehingga organisasi harus dapat mengerti dan memahami kebutuhan pelanggan baik kebutuhan sekarang maupun kebutuhan masa depan dan berusaha untuk memenuhi persyaratan pelanggan serta berupaya untuk melebihi harapannya. Fokus pada pelanggan hanya mungkin jika harapan pelanggan diketahui dengan pasti. Untuk dapat mengetahui harapan pelanggan, maka perlu mengidentifikasi segmen pasar terlebih dahulu. Setiap segmen mempunyai pelanggan yang berbeda termasuk kebutuhan dan harapan pelanggan. Dengan demikian perlu adanya penelitian untuk dapat mengidentifikasinya dengan benar, segmen mana atau harapan apa yang dapat dipenuhi oleh organisasi. Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan ciri khusus yang membedakan antara organisasi/perusahaan tradisional dengan organisasi modern. Pada organisasi tradisional, manajemen puncak merupakan pihak yang menjadi fokus organisasi dan yang menjadi pihak yang paling terpuaskan, dengan kata lain pelanggan agak terpinggirkan. Organisasi modern membalik paradigma ini dengan menjadikan pelanggan sebagai fokus utama atau menjadi pihak yang akan terpuaskan dengan pelayanan organisasi. Keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dengan menerapkan prinsip fokus pada pelanggan, diantaranya meningkatnya pangsa pasar dan keuntungan dalam waktu singkat, meningkatnya penggunaan sumber daya organisasi yang efektif untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan loyalitas pelanggan.

2).  Kepemimpinan:Top Management berfungsi sebagai leader dalam mengawal implementasi sistem bahwa semua gerak organisasi selalu terkontrol dalam satu komando dengan commitment yang sama dan gerak yang sinergi pada setiap elemen organisasi. Seorang pemimpin mempunyai andil yang besar dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan. Oleh karena itu, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan menciptakan visi sekaligus mewujudkannya menjadi kenyataan. Manfaat yang akan dirasakan dengan menerpakan prinsip kepemimpinan ini antara lain orang-orang akan memahami dan termotivasi menuju sasaran dan tujuan perusahaan, aktivitas-aktivitas akan dievaluasi, disesuaikan dan diterapkan dalam satu kesatuan cara, meminimalkan kesalahan komunikasi di antara tingkat-tingkat dalam organisasi, menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi dan berkontribusi untuk perbaikan yang berkelanjutan

3). Keterlibatan semua orang: Semua element dalam organisasi terlibat dan concern dalam implementasi sistem manajemen mutu sesuai fungsi kerjanya masing-masing, bahkan hingga office boy sekalipun hendaknya senantiasa melakukan yang terbaik dan membuktikan kinerjanya layak serta berkualitas, pada fungsinya sebagai office boy. Keterlibatan personel merupakan dasar yang penting dalam prinsip manajemen mutu. Personel pada semua tingkatan adalah modal utama perusahaan, dimana keterlibatan kemampuannya secara penuh sangat bermanfaat bagi perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada personel untuk merencanakan, menerapkan rencana, dan mengendalikan rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kebebasan dan pemberian wewenang perlu dilakukan kepada karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Dengan adanya keterlibatan personel secara menyeluruh, maka akan menghasilkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam memecahkan masalah. Hal ini akan memicu karyawan untuk aktif dalam melihat peluang untuk peningkatan, kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Hal ini tidak diartikan membiarkan karyawan untuk memutuskan caranya dalam melakukan segala sesuatu. Dalam hal ini semua karyawan harus tetap berada dalam koridor yang benar yaitu dengan mematuhi semua standar yang telah ditetapkan. Penerapan prinsip keterlibatan personel bagi organisasi akan memberikan dampak yaitu meningkatnya antusiasme dan rasa bangga karena personel merasa menjadi bagian/memiliki perusahaan, yang pada akhirnya akan berfokus pada kreasi dan memberikan nilai bagi pelanggan.

4).  Pendekatan Proses: Aktivitas implementasi sistem selalu mengikuti alur proses yang terjadi dalam organisasi. Pendekatan pengelolaan proses dipetakan melalui business process. Dengan demikian, pemborosan karena proses yang tidak perlu bisa dihindari atau sebaliknya, ada proses yang tidak terlaksana karena pelaksanaan yang tidak sesuai dengan flow process itu sendiri yang berdampak pada hilangnya kepercayaan. Dalam konteks ISO 9001:2000, pendekatan proses mensyaratkan organisasi untuk melakukan identifikasi, penerapan, pengelolaan, dan melakukan peningkatan berkelanjutan (continual improvement) proses yang dibutuhkan untuk sistem manajemen mutu, dan mengelola interaksi masing-masing proses yang bertujuan untuk mencapai sasaran organisasi. Proses-proses tersebut tercakup tiga hal yang merupakan proses pemantau dan pengukur. Tiga proses tersebut meliputi: proses inti; proses pendukung dan proses manajemen. Proses inti berfungsi sebagai increase in value pada organisasi yang dimulai dari pelanggan eksternal dan kembali lagi ke pelanggan. Proses inti memberikan kontribusi mayor pada organisasi dalam hal pencapaian kepuasan pelanggan. Untuk menjalankan proses inti dengan baik maka diperlukan proses pendukung. Sedangkan proses manajemen berfungsi untuk pengendalian dan pembuatan keputusan.

5).   Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen: Implementasi sistem mengedepankan pendekatan pada cara pengidentifikasian, pemahaman, pengelolaan proses yang saling terkait untuk pencapaian dan peningkatan sasaran perusahaan dengan efektif dan efisien bukan sekedar menghilangkan masalah yang terjadi. Karena itu konsep kaizen, continual improvement sangat ditekankan. Pola pengelolaannya bertujuan memperbaiki cara dalam menghilangkan akar (penyebab) masalah dan melakukan improvement untuk menghilangkan potensi masalah. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan pendekatan sistem antara lain integrasi dan penjajaran proses akan mencapai hasil terbaik dari yang diinginkan; kemampuan untuk memfokuskan usaha dalam proses kunci; memberikan kepercayaan pada interested parties, seperti konsistensi, keefektifan, dan efisiensi organisasi.

6). Peningkatan Berkesinambungan: Improvement, adalah roh implementasi ISO 9001:2008 merupakan suatu kegiatan yang dilakukan berulang kali untuk meningkatkan kemampuan memenuhi persyaratan mutu. Peningkatan berkesinambungan (continual improvement) harus menjadi sasaran tetap perusahaan. Pada continuous improvement terjadi proses pendekatan yang terus-menerus dan dilakukan dengan segera setelah terjadi penyempurnaan. Hal ini akan menjadi standar dan tantangan untuk melakukan penyempurnaan lagi.

7). Pembuatan Keputusan Berdasarkan Fakta: Setiap keputusan dalam implementasi sistem selalu didasarkan pada fakta dan data. Tidak ada data (bukti implementasi) sama dengan tidak dilaksanakannya sistem ISO 9001:2008 Keputusan yang efektif adalah keputusan yang berdasarkan analisis data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh suatu organisasi yang menerapkan manajemen mutu, antara lain harus membangun sistem informasi yang memadai untuk setiap proses seperti data pasokan dari pemasok, bahan mentah, kondisi proses dan lain-lainnya; pemakaian teknik atau metode statistik yang relevan untuk analisis data, melakukan pengendalian record (catatan, arsip, dsb) dengan baik; mengembangkan teknik-teknik check sheet untuk berbagai proses dan kegiatan untuk mempermudah pengumpulan data harian.

8). Hubungan Saling Menguntungkan dengan Pemasok: Supplier bukanlah ‘pembantu’, tetapi  mitra usaha, business partner karena itu harus terjadi pola hubungan saling menguntungkan dalam rangka meningkatkan kemampuan keduanya dalam memberikan nilai. Menurut Muhandri (2005) ada dua jenis arah kebijakan hubungan dengan pemasok, yaitu bersifat sebagai lawan, dan bersifat sebagai kawan (kerjasama/kemitraan). Arah kebijakan hubungan yang bersifat sebagai lawan mempunyai ciri-ciri:

a. Diwarnai oleh adanya kecurigaan adanya sisipan bahan yang jelek

b. Harga penawaran terendah menjadi fokus perhatian

c. Keuntungan perusahaan bersifat jangka pendek

d. Tidak ada perencanaan bersama maupun bentuk kerjasama lainnya

Sedangkan arah kebijakan hubungan yang bersifat kemitraan mempunyai ciri:

a. Kedua belah pihak seolah merupakan bagian dari perusahaan yang sama

b. Adanya hubungan yang berkesinambungan

c. Adanya rasa saling percaya

d. Melakukan perencanaan bersama

e. Saling membantu dan mengunjungi

f. Pemasok dianggap sebagai bentuk perluasan perusahaan

Selain penerapan prosedur TPTP, ada suatu wadah atau sarana yang banyak dianjurkan oleh ahli-ahli mutu dalam kaitannya dengan continous improvement yaitu biasa disebut dengan GKM (Gugus Kendali Mutu). Gugus Kendali Mutu adalah kelompok kecil karyawan (5-8 orang) yang melakukan kegiatan pengendalian dan peningkatan mutu secara teratur, sukarela dan berkesinambungan, sesuai dengan bidang pekerjaanya dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengendalian mutu (Muhandri, 2005). Adapun tujuan dari kegiatan GKM yaitu lebih dari sekedar peningkatan atau perbaikan mutu tetapi lebih pada pengembangan unsur karyawan (SDM). Sehebat apapun model fisik yang dimiliki oleh perusahaan, tidak akan berarti jika tidak mempunyai modal SDM yang baik.

B. 2. Standar lain

Dalam suatu perusahaan tidak hanya satu standar yang dapat digunakan tapi juga dapat menggunakan standar lain seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) yang merupakan suatu sistem yang digunakan untuk menilai bahaya dan menetapkan sistem pengendalian yang memfokuskan pada pencegahan dan mementingkan mutu keamanan pangan. HACCP dapat diterapkan pada seluruh mata rantai prose pengolahan produk pangan. Selain itu, dapat pula digunakan Six Sigma (Miranda dan Tungal, 2002) yaitu suatu sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, memberi dukungan dan memakismalkan proses bisnis yang berkfokus kepada pemahaman akan kebutuhan pelanggan menggunakan fakta, data, dan analisis statistik serta terus menerus memperhatikan pengaturan, perbaikan, dan review proses bisnis. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya (Daniels, 2009). Six sigma juga disebut sistem komprehensive – maksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat – untuk mencapai dan mendukung kesuksesan bisnis (Heizer Jay dan Barry Render, 2008).

C. Pengendalian Sistem Manajemen Mutu Pada Perusahaan

Perusahaan Minuman Sari Buah X melakukan tindakan pengendalian sistem manajemen mutu dengan melakukan pengendalian dokumen berdasarkan sistem menajemen mutu ISO 9001:2000 yang meliputi Dokumen Mutu dan Catatan Mutu. Pengendalian dokumen ini dilakukan oleh Management Representative (MR).

Dokumen Mutu meliputi dokumen jenis Manual Mutu (berisi pernyataan kebijakan mutu dan sasaran mutu), prosedur mutu, instruksi kerja, standar dan formulir. Pengendaliannya meliputi peninjauan penerbitan, pemeriksaan kebenaran materi, pengidentifikasian, pengesahan, jaminan status terbaru dan ketersediaan, serta pengendalian kadaluarsa. Dokumen-dokumen sistem Manajemen Mutu yang meliputi Dokumen Mutu harus dipastikan dikendalikan agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah direncanakan dan memenuhi persyaratan standar. Sedangkan Catatan Mutu (arsip/data) adalah hasil pengisian Dokumen Mutu jenis formulir. Dalam prosedur pengendalian Dokumen Mutu dan Catatan Mutu berisi cara-cara pengendaliannya yang dapat disosialisasikan kepada seluruh anggota perusahaan.

Perusahaan Sari Buah X memiliki dokumen yang sudah tidak up to date dan memerlukan revisi atau perbaikan karena sudah tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di perusahaan. Perusahaan tersebut masih menggunakan dokumen tahun 2005, sedangkan menurut ketentuan yang ada seharusnya dilakukan revisi dokumen setiap enam bulan sekali dan apa yang tertulis dapat dilaksanakan di lapangan. Pada kondisi ini, Management Representative selakku pengendali dokumen memiliki wewenang untuk mengendalikan dokumen dan memberikan instruksi kerja mengenai tata cara pengendalian dokumen mutu internal maupun eksternal. Dokumen Mutu Internal merupakan dokumen mutu yang berasal dari dalam (internal) perusahaan sedangkan Dokumen Mutu Eksternal merupakan dokumen mutu yang bersal dari luar perusahaan.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bersifat organizational yang berpengaruh dalam kualitas pengembangan sistem. Faktor tersebut adalah

1. Kepemimpinan manajer tinggi (Top Management Leadership).

2. Manajemen infrastruktur.

3. Keampuhan manajemen proses.

4. Partisipasi stakeholder

Saat melakukan perubahan dan pengembangan pun seharusnya perusahaan Minuman Sari Buah X menunjukkannya serta memelihara rekamannya. Perubahan yang terjadi pada perusahaan harus ditinjau, diverifikasi dan divalidasi dengan cara yang sesuai dan disetujui sebelum diterapkan. Tinjauan perubahan desain dan pengembangan harus mencakup evalasi pengaruh perubahan pada bagian produk dan produk yang telah diserahkan. Rekaman hasil tinjauan perubahan dan setiap tindakan yang diperlukan harus dipelihara.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan masalah yang ada pada perusahaan Minuman Sari Buah X seharusnya perusahaan tersebut menerapkan prinsip ISO 9001:2000 pada sistem manajemennya. Dengan menerapkan sistem manajemen yang baik yang berdasarkan ISO 9001:2000 maka pembagian sistem kerja dan produksi akan lebih baik lagi sehingga tidak ada data yang hilang, dan bila diperlukan data tersebut dapat dicari dan diambil kembali demi kepentingan bersama.

B. DAFTAR PUSTAKA

  1. Daniels. D. John, Lee H. Radebaugh dan Daniel P.Sullivan. 2009. International Business:Environments and Operations.12th ed.Prentice Hall.
  2. Feigenbaum, V. A. 1989. Kendali Mutu Terpadu. Terjemahan. Penerbit Erlangga, Jakarta.
  3. Garvin, D. A. “The Process of Organization and Management,” Sloan Management Review (39:4), Summer 1998, pp. 33-50.
  4. Heizer Jay dan Barry Render. 2008. Operations Management.9th ed.United States of America: Prentice Hall.
  5. ISO 9001:2008 Awareness & Implementation, SGS, March 2009
  6. ISO 9001:2008 an International Standard for Quality Management System
  7. Miranda dan A. W. tungal. 2002. Six Sigma: Gambaran Umum, Penerapan Proses Dan Metode-Metode Yang Digunakaan Untuk Perbaikan GE Dan Motorola. Harvarindo. Jakarta.
  8. Muhandri, Tjahja dan Kadarisman, Darwin. 2005. Sistem Jaminan Mutu Industri Pangan. FATETA-IPB. Bogor.
  9. Nurul Diana Novania, Modul Kuliah Pengendalian Mutu, Universitas Mercu Buana
  10. Soekarto, S. T. 1990. Pengawasan Mutu Pangan. PAU Pangan dan Gizi, IPB. Bogor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: