JURNAL DAN BULLETIN

No.1 Volume I, Tahun 2011. [Klik Disini]

PRINSIP PENERAPAN QMS (Quality Manajemen System) PADA PERUSAHAAN


[F. Lavinia, Y.Sinaga, F. Syawaliyah, E. Febriani]

I. PENDAHULUAN

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Akan tetapi sekarang ini manusia tidak melihat pangan hanya sebagai kebutuhan pokok saja. Saat ini dalam memenuhi kebutuhan akan pangan mereka sudah menjadikan pangan sebagai bagian dari lifestyle. Masyarakat lebih jeli dalam menentukan pangan yang akan dikonsumsi. Masyarakat sekarang menuntut adanya keamanan pangan dan nilai lebih terhadap pangan yang mereka konsumsi (nilai nutrisinya).  Apalagi seringnya muncul kasus-kasus seperti mencuatnya kasus keracunan pangan (kasus keracunan dari sari buah di Surabaya), kasus keracunan susu pada anak-anak SD, kasus Enterobacter sakasaki yang ditemukan pada produk susu formula.

Kebutuhan akan keamanan pangan dapat diterapkan mulai dari yang menghasilkan, membuat, menangani ataupun yang menyediakan makanan. Mereka harus mampu menunjukkan cukup bukti dalam mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang bisa berdampak pada keamanan pangan. Berdasarkan hal tersebut itulah, banyak industri pangan terdorong berusaha mengikuti keinginan konsumennya dengan jalan menjamin mutu pada produk yang dihasilkannya.

Industri makanan bertujuan untuk menghasilkan makanan yang harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan mutu (quality) dalam memenuhi tuntutan konsumen dan persyaratan yang berlaku. Salah satu kriteria penting dari produk industri makanan ialah diterimanya kriteria persyaratan kualitas makanan. Karena menyangkut soal nyawa manusia maka industri makanan dan produk industri makanan diatur secara ketat, baik oleh industri makanan itu sendiri maupun oleh pemerintah (dalam hal ini Badan POM sebagai regulator industri makanan di Indonesia). Sebagaimana industri dan produk industri makanan di negara-negara lain, industri makanan makanan di Indonesia diberlakukan persyaratan yang diatur dalam Cara Pembuatan Makanan yang Baik (CPMB).

Dalam pedoman pelaksanaan CPMB disebutkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi mutu produk antara lain adalah (1) kualitas dari bahan awal dan bahan pengemas yang digunakan, (2) proses pembuatan dan pengawasan mutu, (3) bangunan dan peralatan, serta (4) personalia yang terlibat dalam pembuatan makanan. Dengan semakin meningkatnya tuntutan terhadap jaminan khasiat, keamanan dan kualitas produk, maka “konsep pengawasan mutu” yang saat ini masih banyak digunakan di industri makanan, menjadi sangat tidak memadai lagi. Konsep pengawasan mutu (quality control concept) didasarkan pada konsep defect detection, yang artinya bagaimana suatu sistem pengawasan tersebut dapat mendeteksi terjadinya suatu kesalahan/penyimpangan yang telah terjadi. Sistem ini hanya bisa mendeteksi kesalahan yang sudah terjadi. Tentu saja, di tengah arus globalisasi saat ini, konsep yang seperti ini sudah sangat tidak memadai lagi, apalagi untuk bisa memberikan jaminan terhadap khasiat, keamanan dan mutu suatu produk. Jaminan terhadap khasiat, keamanan dan mutu produk industri makanan tersebut hanya bisa dilakukan jika terdapat sistem yang secara proaktif mencegah sebelum terjadinya kesalahan dan/atau penyimpangan dalam proses pembuatan obat tersebut. Konsep ini disebut dengan Konsep Penjaminan Mutu (Quality Assurance). Penjaminan hanya bisa dilaksanakan jika ada sistem yang mengatur seluruh komponen (unsur) dalam industri makanan tadi agar tujuan mutu dapat tercapai. Sistem inilah yang sering disebut dengan Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System).

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen kualitas. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan–persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen kualitas. ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan – persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah produk (barang atau jasa). ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen kualitas. Namun, bagaimanapun juga diharapkan bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen kualitas internasional, akan berkualitas baik (standar). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Quality Management Systems (ISO 9001:2000) ialah : “Merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek–praktek standar untuk manajemen sistem, yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu, dimana kebutuhan atau persyaratan tertentu tersebut ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi.”

II. PEMBAHASAN

A. DELAPAN PRINSIP MANAJEMEN MUTU

Mengadopsi sistem manajemen mutu merupakan keputusan strategis organisasi. Desain dan penerapan sistem manajemen mutu dipengaruhi oleh kondisi yang berubah, sasaran tertentu produk yang disediakan, dan ukuran serta struktur organisasi. Sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu. Prinsip-prinsip ini dapat digunakan oleh manajemen senior sebagai suatu kerangka kerja (framework) yang membimbing organisasi menuju peningkatan kinerja. Delapan prinsip manajemen mutu ini nantinya akan berintegrasi pada klausal-klausal ISO 9001:2000, yang secara singkat akan dijelaskan satu per satu pada uraian di bawah ini.

1. Fokus Pelanggan

Pelanggan merupakan kunci meraih keuntungan. Kelangsungan hidup perusahaan/organisasi sangat ditentukan bagaimana pandangan pelanggan terhadap organisasi tersebut. Oleh karena itu, organisasi harus dapat mengerti dan memahami kebutuhan pelanggan baik kebutuhan sekarang maupun kebutuhan masa depan dan berusaha untuk memenuhi persyaratan pelanggan serta berupaya untuk melebihi harapannya. Fokus pada pelanggan hanya mungkin jika harapan pelanggan diketahui dengan pasti. Untuk dapat mengetahui harapan pelanggan, maka perlu mengidentifikasi segmen pasar terlebih dahulu. Setiap segmen mempunyai pelanggan yang berbeda termasuk kebutuhan dan harapan pelanggan. Dengan demikian perlu adanya penelitian untuk dapat mengidentifikasinya dengan benar, segmen mana atau harapan apa yang dapat dipenuhi oleh organisasi.

Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan ciri khusus yang membedakan antara organisasi/perusahaan tradisional dengan organisasi modern. Pada organisasi tradisional, manajemen puncak merupakan pihak yang menjadi fokus organisasi dan yang menjadi pihak yang paling terpuaskan, dengan kata lain pelanggan agak terpinggirkan. Organisasi modern membalik paradigma ini dengan menjadikan pelanggan sebagai fokus utama atau menjadi pihak yang akan terpuaskan dengan pelayanan organisasi. Banyak manfaat penting yang akan diperoleh oleh perusahaan dengan penerapan prinsip fokus pada pelanggan, diantaranya :

a.   Meningkatnya pangsa pasar dan keuntungan dalam waktu singkat

b. Meningkatnya penggunaan sumber daya organisasi yang efektif untuk meningkatkan kepuasan pelanggan

c.   Meningkatkan loyalitas pelanggan.

2. Kepemimpinan

Manajemen dan kepemimpinan (leadership) sering disamaartikan, padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda, kepemimpinan berhubungan dengan top line, sedangkan manajemen berhubungan dengan bottom line. Walaupun berbeda keduanya tetap saling melengkapi. Seorang pemimpin mempunyai andil yang besar dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan. Oleh karena itu, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan menciptakan visi sekaligus mewujudkannya menjadi kenyataan. Penerapan prinsip kepemimpinan ini mempunyai manfaat penting yang akan dirasakan antara lain:

a. Orang-orang akan memahami dan termotivasi menuju sasaran dan tujuan perusahaan.

b. Aktivitas-aktivitas akan dievaluasi, disesuaikan dan diterapkan dalam satu kesatuan cara

c. Meminimalkan kesalahan komunikasi di antara tingkat-tingkat dalam organisasi

d. Menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi dan berkontribusi untuk perbaikan yang berkelanjutan

3. Keterlibatan Personel

Keterlibatan personel merupakan dasar yang penting dalam prinsip manajemen mutu. Personel pada semua tingkatan adalah modal utama perusahaan, dimana keterlibatan kemampuannya secara penuh sangat bermanfaat bagi perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada personel untuk merencanakan, menerapkan rencana, dan mengendalikan rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kebebasan dan pemberian wewenang perlu dilakukan kepada karyawan dalam melakukan pekerjaan dengan baik. Dengan adanya keterlibatan personel secara menyeluruh, maka akan menghasilkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam memecahkan masalah. Hal ini akan memicu karyawan untuk aktif dalam melihat peluang untuk peningkatan, kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Hal ini tidak diartikan membiarkan karyawan untuk memutuskan caranya dalam melakukan segala sesuatu. Dalam hal ini semua karyawan harus tetap berada dalam koridor yang benar yaitu dengan mematuhi semua standar yang telah ditetapkan. Penerapan prinsip keterlibatan personel bagi organisasi akan memberikan dampak yaitu meningkatnya antusiasme dan rasa bangga karena personel merasa menjadi bagian/memiliki perusahaan, yang pada akhirnya akan berfokus pada kreasi dan memberikan nilai bagi pelanggan.

4. Pendekatan Proses

Proses adalah kumpulan aktivitas yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam rangka merubah input menjadi output. Sedangkan pendekatan proses berarti identfikasi yang sistematis dan pengelolaan proses yang digunakan organisasi dan keterangan yang mempengaruhi setiap proses. Dalam konteks ISO 9001:2000, pendekatan proses mensyaratkan organisasi untuk melakukan identifikasi, penerapan, pengelolaan, dan melakukan peningkatan berkelanjutan (continual improvement) proses yang dibutuhkan untuk sistem manajemen mutu, dan mengelola interaksi masing-masing proses yang bertujuan untuk mencapai sasaran organisasi. Proses-proses tersebut tercakup tiga hal yang merupakan proses pemantau dan pengukur. Tiga proses tersebut meliputi: (1) Proses inti; (2) Proses pendukung dan (3) Proses manajemen.

Proses inti berfungsi sebagai increase in value pada organisasi yang dimulai dari pelanggan eksternal dan kembali lagi ke pelanggan. Proses inti memberikan kontribusi mayor pada organisasi dalam hal pencapaian kepuasan pelanggan. Untuk menjalankan proses inti dengan baik maka diperlukan proses pendukung. Sedangkan proses manajemen berfungsi untuk pengendalian dan pembuatan keputusan.

5. Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen

Pendekatan sistem terhadap manajemen diartikan sebagai pengidentifikasian, pemahaman, dan pengelolaan sistem dari proses yang saling terkait untuk pencapaian dan peningkatan sasaran perusahaan dengan efektif dan efisien. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan pendekatan sistem antara lain:

a. Integrasi dan penjajaran proses akan mencapai hasil terbaik dari yang diinginkan

b. Kemampuan untuk memfokuskan usaha dalam proses kunci

c. Memberikan kepercayaan pada interested parties, seperti konsistensi, keefektifan, dan efisiensi organisasi.

6. Peningkatan Berkesinambungan

Peningkatan berkesinambungan didefenisikan sebagai kegiatan yang dilakukan berulang kali untuk meningkatkan kemampuan memenuhi persyaratan mutu. Peningkatan berkesinambungan (continual improvement) harus menjadi sasaran tetap perusahaan. Pada continious improvement terjadi proses pendekatan yang terus-menerus dan dilakukan dengan segera setelah terjadi penyempurnaan. Hal ini akan menjadi standar dan tantangan untuk melakukan penyempurnaan lagi.

7. Pembuatan Keputusan Berdasarkan Fakta

Keputusan yang efektif adalah keputusan yang berdasarkan analisis data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh suatu organisasi yang menerapkan manajemen mutu, antara lain:

a. Harus membangun sistem informasi yang memadai untuk setiap proses seperti data pasokan dari pemasok, bahan mentah, kondisi proses dan lain-lainnya.

b. Pemakaian teknik atau metode statistik yang relevan untuk analisis data

c. Melakukan pengendalian record (catatan, arsip, dsb) dengan baik

d. Mengembangkan teknik-teknik check sheet untuk berbagai proses dan kegiatan untuk mempermudah pengumpulan data harian.

8. Hubungan Saling Menguntungkan dengan Pemasok

Organisasi dan pemasoknya adalah saling tergantung dan merupakan hubungan yang saling menguntungkan dalam rangka meningkatkan kemampuan keduanya dalam memberikan nilai. Menurut Muhandri (2005) ada dua jenis arah kebijakan hubungan dengan pemasok, yaitu (1) bersifat sebagai lawan, dan (2) bersifat sebagai kawan (kerjasama/kemitraan). Arah kebijakan hubungan yang bersifat sebagai lawan mempunyai ciri-ciri:

a. Diwarnai oleh adanya kecurigaan adanya sisipan bahan yang jelek

b. Harga penawaran terendah menjadi fokus perhatian

c. Keuntungan perusahaan bersifat jangka pendek

d. Tidak ada perencanaan bersama maupun bentuk kerjasama lainnya

Sedangkan arah kebijakan hubungan yang bersifat kemitraan mempunyai ciri-ciri:

a. Kedua belah pihak seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan yang sama

b. Adanya hubungan yang berkesinambungan

c. Adanya rasa saling percaya

d. Melakukan perencanaan bersama

e. Saling membantu dan mengunjungi

f. Pemasok dianggap sebagai bentuk perluasan perusahaan

B. AUDIT SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2008

Audit mutu adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan dilakukan oleh bagian yang independen (bukan dari bagian yang diaudit), untuk mengetahui apakah semua kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan apakah peraturannya diterapkan secara benar dan mampu mencapai tujuan yang telah diterapkan (Bambang dan Sulisjartiningsih W, 1996). Dan untuk memastikan sitem manajemen mutu yang dipakai telah diterapkan dengan efektif, penilaian secara objektif dan berkala perlu dilakukan. Dengan melakukan ini, organisasi akan mengetahui kondisinya saat ini. Audit yang objektif akan memberikan jaminan bahwa Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang diterapkan dan dipelihara sesuai dengan kebijakan, sasaran, dan rencana yang ditetapkan. Hasil audit ini akan dijadikan sebagai alat/ bahan dalam melakukan tindakan koreksi atau tindakan pencegahan yang mengarah pada peningkatan. Oleh karena itu, standar internasional menekankan pentingnya audit sebagai alat bantu pemantau dan verifikasi. Audit juga berperan sebagai aktivitas yang esensial, seperti sertifkasi eksternal dan evaluasi pemasok (Suardi, 2004).

Audit sistem mutu biasanya dilakukan untuk menentukan tingkat kesesuaian aktivitas perusahaan terhadap SMM yang telah ditentukan serta efektifitas pada penerapan tersebut. Jenis-jenis pembagian audit mutu berdasarkan pihak yang melaksanakan adalah : audit pihak pertama, audit pihak kedua, dan audit pihak ketiga. Adapun teknik audit dapat dilakukan dengan beberapa tahapan,yaitu : mengidentifikasi proses, mengaudit SMM, mengumpulkan dan memverifikasi informasi, temuan audit, pertemuan tim audit, rapat penutupan, pelaporan audit, mendokumentasikan ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan (Suardi, 2004).

C. PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU DI PERUSAHAAN

Penyusunan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dimulai dengan pengangkatan seorang Management Representative (MR) yang bertanggung jawab secara langsung ke Top Management. Adapun tugas yang diemban oleh Management Representative yaitu :

a)      Menjamin agar kegiatan-kegiatan yang dipersyaratkan dan diperlukan dalam Sistem Manajemen Mutu dikembangkan, dijalankan, dan dipertahankan.

b)      Melaporkan kinerja Sistem Manajemen Mutu kepada Direksi (Top Management) termasuk melaporkan rencana-rencana perbaikan Sistem Manajemen Mutu yang dipandang perlu untuk penyempurnaan atau peningkatan kinerja.

c)      Mengupayakan peningkatan kesadaran dan pengetahuan segenap jajaran personel perusahaan termasuk kesadaran akan pentingnya komitmen mutu dan kepuasan pelanggan melalui program pendidikan dan pelatihan yang direncanakan dan dilaksanakan secara berkesinambungan.

d)      Menjaga hubungan relasi dengan pihak-pihak luar termasuk dengan pelanggan untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan Sistem Manajemen Mutu.

Setelah penunjukan seorang MR, langkah berikutnya yang dilakukan dalam upaya penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 adalah dengan penyusunan dokumen ISO 9001. Dokumentasi merupakan ciri utama ISO 9000 yang menjabarkan dengan jelas bahwa semua dokumen dan data yang berkaitan dengan sistem mutu, jika memungkinkan harus dikaji kembali dan disahkan, termasuk dokumen asli seperti standar dan gambar milik pelanggan. Penyusunan dokumen ini dimulai dari Proses Bisnis Perusahaan, Ringkasan Prosedur, Prosedur Manual, Manual Mutu, dan dokumen pendukung lainnya, form dan instruksi kerja.

Dari format Sistem Manajemen Mutu diatas, dapat dilihat bahwa manual mutu menempati hirarki dokumen mutu. Menurut SNI-19-9000-2001 (2001) manual mutu berarti suatu dokumen yang menyatakan kebijakan mutu dan menjelaskan sistem mutu suatu organisasi. Manual mutu menggambarkan secara garis besar Sistem Manajemen Mutu perusahaan, yang didalamnya berisi :

1.      Kebijakan-kebijakan yang telah digariskan oleh Top Management untuk dijadikan acuan semua aktivitas proses dalam rangka mencapai tujuan jangkan panjang dan jangka pendek perusahaan yang diilhami visi dan misi.

2.      Penerapan metode PDCA (Plan-Do-Check-Action) pada semua aktivitas proses untuk perbaikan sistem yang berkelanjutan.

3.      Uraian persyaratan Sistem Manajemen Mutu yang diarahkan untuk mencapai sasaran-sasaran mutu produk dalam upaya memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.

Manual Mutu disiapkan oleh Wakil Manajemen dan disahkan oleh Ass. Direktur selaku Top Management. Wakil Manajemen didelegasikan oleh Top Management kepada MR Manager, untuk menjamin agar semua kebijakan dan arahan-arahan yang telah dituangkan dalam Manual Mutu dapat dipahami oleh seluruh personel dan jajaran pimpinan serta dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.

Seluruh personel dan jajaran pimpinan yang terlibat dalam struktur Tim Fungsional ISO, diberi kesempatan untuk memberi masukan berupa usulan dan saran untuk pengembangan dan penyempurnaan isi Manual Mutu. Semua masukan disalurkan melalui Wakil Manajemen, untuk selanjutnya akan dibahas dengan pihak manajemen sebelum diimplementasikan.Jika diperlukan, Manual Mutu dapat ditinjau secara berkala minimal setahun sekali untuk menampung semua perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Manual Mutu adalah jenis dokumen yang dikendalikan, karenanya tatacara pendistribusian dan penggunaannya akan tunduk pada prosedur Pengendalian Dokumen Mutu (DM) dan Catatan Mutu (CM) yang dibuat oleh Wakil Manajemen.

Setelah Manual Mutu selesai dibuat, proses pendokumentasian dilanjutkan dengan penyusunan Prosedur Mutu, Intruksi Kerja, dan Catatan Mutu yang ada di semua departemen. Penyusunan dokumen ISO ini dilakukan oleh personel masing-masing departemen dengan mendapatkan pengarahan dan bimbingan dari MR. Walaupun saat ini semua dokumen dan persyaratan ISO 9001:2000 telah dibuat, namun ada kemungkinan perusahaan belum memperoleh Sertifikat ISO 9001:2000 karena (1) proses sertifikasi membutuhkan biaya yang relatif mahal, dan (2) dari pihak pelanggan (buyer) tidak mensyaratkan adanya sertifikasi ISO 9001:2000.

D. PENGENDALIAN SISTEM MANAJEMEN MUTU DI  PERUSAHAAN

4.1 Pengendalian Dokumen Mutu

Perusahaan melakukan pengendalian dokumen ke dalam system manajemen mutu ISO 9001:2000 yang dilakukan oleh Management Representative (MR). Pengendalian itu dilakukan terhadap semua Dokumen Mutu (DM) dan Catatan Mutu (CM) yang ada dan yang beredar di perusahaan. Adapun yang termasuk dengan Dokumen Mutu meliputi dokumen dokumen jenis Manual Mutu (berisi pernyataan kebijakan Mutu dan Sasaran Mutu), Prosedur Mutu, Instruksi Kerja, Standar dan Formulir. Sedangkan Catatan Mutu (arsip/data) adalah hasil pengisian DM jenis Formulir.

Pengendalian pada Dokumen Mutu meliputi tata cara : peninjauan penerbitan, pemeriksaan kebenaran materi, pengidentifikasian, pengesahan, jaminan status terbaru dan ketersediaan, serta pengendalian kadaluarsa. Dokumen-dokumen Sistem Manajemen Mutu yang terdiri dari Dokumen Mutu (Manual Mutu, Prosedur Mutu, Instruksi Kerja, Standard an Formulir) harus dipastikan dikendalikan agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah direncanakan dan memenuhi persyaratan standar.

Proses perevisian dokumen meliputi dokumen mutu jenis Manual Mutu, Prosedur Mutu, Instruksi Kerja, Formulir dan Standar. Perevisian dokumen ini perlu dilakukan bila masih banyak dokumen mutu yang ada di perusahaan sudah tidak up to date lagi. Sebagai contoh masih banyak departemen yang masih menggunakan dokumen mutu yang dibuat pada tahun 2003, sedangkan menurut ketentuan yang ada di prosedur pengendalian dokumen mutu, semua dokumen akan diadakan peninjauan ulang setiap enam bulan sekali sehingga diharapkan apa yang tertulis di dokumen merupakan apa yang dikerjakan di lapangan. Untuk mendukung pelaksanaan perevisian, MR selaku fungsi yang punya wewenang dan tanggung jawab dalam pengendalian dokumen telah membuat dan menerbitkan instruksi kerja mengenai tata cara pengendalian dokumen mutu, baik dokumen mutu internal (DMI) maupun dokumen mutu eksternal (DME). DMI merupakan dokumen mutu yang bersal dari dalam (internal) perusahaan sedangkan DME merupakan dokumen mutu yang bersal dari luar perusahaan.

4.2 Continous Improvement (Aplikasi Prosedur TPTP)

Standar-standar ISO 9001:2000 mempromosikan suatu adopsi dari pendekatan proses ketika mengembangkan, menerapkan, dan meningkatkan system manajemen mutu. Pendekatan proses menyatakan bahwa “setiap aktivitas atau sekumpulan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber daya untuk mentransformasikan input menjadi output dapat dipertimbangkan menjadi suatu proses (ISO 9000:2000, klausal 2.4). Continuous improvement sebagai suatu kegiatan perbaikan terus-menerus yang berkelanjutan terhadap SMM dengan menggunakan prinsip Plan-Do-Check-Action (PDCA). Tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan (TPTP) diartikan sebagai upaya mendapatkan dan mengeliminasi potensi penyebab ketidaksesuaian yang mungkin timbul dalam usaha mencegah kejadian tersebut terjadi lagi. Tujuan dari penerapan TPTP yaitu untuk menentukan dan menangani ketidaksesuaian dan penyebabnya yang ada atau yang mungkin ada, dengan upaya tindakan perbaikan  dan tindakan pencegahan yang tepat. Pada praktek penerapannya, prosedur TPTP ini disosialisasikan oleh MR ke seluruh departemen yang ada di perusahaan. Sosialisasi penerapan prosedur TPTP ini dilakukan dengan 3 cara, yaitu : 1). Meeting koordinasi seluruh departemen, 2). Pembagian prosedur, Ik, form TPTP ke seluruh departemen, 3). Pemasangan prosedur, IK, form TPTP di madding ISO yang ada di perusahaan.

Selain penerapan prosedur TPTP, ada suatu wadah atau sarana yang banyak dianjurkan oleh ahli-ahli mutu dalam kaitannya dengan continous improvement yaitu biasa disebut dengan GKm (Gugus Kendali Mutu). Gugus Kendali Mutu adalah kelompok kecil karyawan (5-8 orang) yang melakukan kegiatan pengendalian dan peningkatan mutu secara teratur, sukarela dan berkesinambungan, sesuai dengan bidang pekerjaanya dengan menerapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengendalian mutu (Muhandri, 2005). Adapun tujuan dari kegiatan GKM yaitu lebih dari sekedar peningkatan atau perbaikan mutu tetapi lebih pada pengembangan unsure karyawan (SDM). Sehebat apapun model fisik yang dimiliki oleh perusahaan, tidak akan berarti jika tidak mempunyai modal SDM yang baik.

III. KESIMPULAN

Industri makanan bertujuan untuk menghasilkan makanan yang harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan mutu (quality) dalam memenuhi tuntutan konsumen dan persyaratan yang berlaku. Salah satu kriteria penting dari produk industri makanan ialah diterimanya kriteria persyaratan kualitas makanan. Jaminan terhadap khasiat, keamanan dan mutu produk industri makanan tersebut hanya bisa dilakukan jika terdapat sistem yang secara proaktif mencegah sebelum terjadinya kesalahan dan/atau penyimpangan dalam proses pembuatan makanan tersebut. Konsep ini disebut dengan Konsep Penjaminan Mutu.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hadiwiardjo, B.H dan S. Wibisono, Sulistijarningsih. 1996. ISO 9000: Sistem Manajemen Mutu. Ghalia Indonesia, Jakarta.
  2. Muhandri, Tjahja dan Kadarisman, Darwin. 2005. Sistem Jaminan Mutu Industri Pangan. FATETA-IPB. Bogor.
  3. SNI 19-9000-2001. Sistem Manajemem Mutu: Dasar-dasar dan Kosakata. BSN, Jakarta.
  4. Suardi, Rudi. 2004. Sistem Manajemen Mutu ISO 9000:2000. Penerbit PPM, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: